Sudah Packing Mau Pulang, Malah Lolos ke Tahap Nasional Perjuangan Ibrohim Rosyid: Dari Lapangan Luwu Utara Menuju Panggung Sepak Bola Indonesia


Koper sudah tertutup rapat. Pakaian dan perlengkapan tanding telah dikemas rapi. Dalam benak Ibrohim Rosyid, perjalanan panjangnya mengikuti seleksi sepak bola di Makassar telah usai. Dengan persaingan ketat yang diikuti talenta-talenta muda terbaik dari seluruh pelosok Sulawesi Selatan, pemuda ini sudah bersiap untuk menerima kenyataan dan kembali ke kampung halamannya. Namun, takdir menyimpan kejutan manis di detik-detik terakhir.

“Kira mentok sampai di situ mi. Rencana memang mau mi pulang, sudah mi packing… Tiba-tiba keluar pengumumannya, ada namaku. Ndak jadi pulang!” ungkapnya.

Sambil tersenyum mengenang momen mendebarkan itu, Ibrohim menceritakan kembali awal mula langkahnya. Semuanya bermula dari seleksi tingkat kabupaten. Dari enam pemain muda asal daerahnya yang berjuang di tahap awal, hanya dua orang yang dinyatakan lolos untuk melanjutkan asa ke tingkat Provinsi Sulawesi Selatan.

Menembus Persaingan Ketat di Makassar
Sebulan kemudian, Ibrohim melangkah ke Makassar untuk menghadapi seleksi Tahap 2. Di sana, atmosfer persaingan kian memuncak. Ratusan pesepak bola muda dari berbagai penjuru daerah unjuk kebolehan demi mengamankan tiket bergengsi.
Melihat ketatnya kompetisi, rasa rendah hati dan kepasrahan sempat menyelimuti perasaannya. Ia bersiap mengangkat koper untuk pulang. Namun saat lembar pengumuman resmi dikeluarkan, nama Ibrohim Rosyid tercantum sebagai salah satu wakil resmi yang berhak membawa nama Sulawesi Selatan ke tingkat nasional. Rencana pulang pun mendadak batal; tujuannya kini beralih ke Pulau Jawa.


Estafet Perjalanan: Surabaya hingga Bekasi
Tanpa membuang waktu, pada tanggal 9 perjalanan berlanjut. Dari Sulawesi Selatan, Ibrohim terbang menuju Surabaya, lalu menempuh perjalanan darat menggunakan bus menuju Bekasi. Setelah menempuh perjalanan panjang yang melelahkan, ia hanya memiliki waktu istirahat satu hari sebelum kembali menguras fisik dan mental dalam seleksi ketat selama dua hari penuh di Jawa.
Di balik ketangguhannya menembus seleksi demi seleksi, ada pengorbanan besar yang tak terlihat. Seluruh biaya perjalanan dari daerah hingga ke Jawa ditanggung secara mandiri. Dukungan penuh dan pengorbanan luar biasa dari orang tuanya menjadi bahan bakar utama yang membakar semangat Ibrohim di lapangan.
Bosan Main HP, Berbuah Prestasi
Menariknya, saat ditanya mengenai motivasi awalnya mengikuti seleksi, Ibrohim memberikan jawaban yang jujur dan polos. Di saat banyak remaja seusianya menghabiskan waktu luang di rumah dengan bermain ponsel, Ibrohim justru merasa bosan dengan rutinitas tersebut.

“Daripada bosan di rumah cuma main HP, jadi ikut main bola saja…”ujarnya.

Kerapihan gerak dan bakat olahraganya sejatinya sudah terasah sejak sekolah dasar. Tak hanya mahir mengolah si kulit bundar, Ibrohim adalah atlet serba bisa. Sebelumnya, ia bahkan pernah dipercaya membawa nama Kabupaten Luwu Utara dalam kejuaraan Pentaque. Bagi Ibrohim, olahraga bukan sekadar hobi, melainkan jalan hidup.


Menatap Masa Depan: Bermimpi Menjadi Polisi
Kini, Ibrohim sedang berada dalam masa menanti pengumuman hasil seleksi nasional di Jawa. Jika dinyatakan lolos, ia akan memasuki tahap karantina dan pemusatan latihan bersama talenta-talenta terbaik dari seluruh Indonesia.
Ketika ditanya mengenai cita-cita masa depannya, mata pemuda ini berbinar. Ia memimpikan karier sebagai Anggota Kepolisian, mengikuti jejak para atlet nasional yang berhasil mengabdi kepada negara baik di dalam maupun di luar lapangan hijau. Dengan semangat pantang menyerah, dukungan keluarga, dan bakat yang terus diasah, Ibrohim Rosyid telah membuktikan bahwa keberanian untuk mencoba dapat mengubah rasa bosan menjadi prestasi yang membanggakan.

Norhafizah/Guru Bimbingan Konseling

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *